Tentang Islam

Senin, 20 Juni 2011

“Apakah laki-laki diperbolehkan memakai gelang yang bukan terbuat dari emas ataupun perak?”


Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Tidaklah diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai perhiasan selain cincin, jam tangan atau benda semisalnya. Perbuatan menyerupai perempuan dengan memakai gelang meski tidak terbuat dari emas hukumnya adalah tidak boleh”.


Sumber:
http://al-obeikan.com/show_fatwa/333.html

Rabu, 08 Juni 2011

Lihatlah Keteladanan Syaikh Ibnu Baz!


Ada yang menuturkan bahwa dia suatu hari membaca al Qur’an di dekat Syeikh Ibnu Baz dan bacaannya keliru. Mendengar hal tersebut, beliau berkata, “Bukan demikian, perbaiki bacaan al Qur’anmu”. Lalu beliau sendiri yang mengoreksi bacaan orang tersebut. Setelah itu beliau berpesan, “Simakkan bacaan al Qur’anmu pada seorang guru al Qur’an sehingga engkau bisa memperbaiki bacaanmu. Jangan terus menerus seperti ini”.

Suatu hari Syeikh Ibnu Baz berkata kepada orang yang ada di dekatnya, “Apakah engkau rutin membaca al Qur’an dengan target tertentu setiap harinya?”. Orang tersebut berkata, “Aku tidak rutin membaca membaca al Qur’an. Kadang aku membaca dan sekali membaca langsung dengan kadar yang banyak”. Ibnu Baz berkata, “Jangan demikian. Rutinkan membaca al Qur’an. Bukankah jika dalam sehari engkau membaca sebanyak satu juz maka dalam sebulan engkau bisa mengkhatamkan al Qur’an?!. Tiap hari engkau harus punya target yang jelas. Jangan sekedar asal-asalan”.

Teladan dalam Kedermawanan

Kehidupan Syeikh Ibnu Baz itu penuh dengan keteladanan dalam kedermawanan. Inilah sifat menonjol yang ada pada diri beliau. Beliau adalah seorang yang dermawan sejak belia dan terus dermawan hingga beliau meninggal dunia.
Muhammad bin Baz, kakak beliau, bercerita bahwa saudara kandungnya yaitu Syeikh Abdul Aziz bin Baz dulu ketika kecil suka meminta kepada ibunya tambahan porsi makan siang dan makan malam kemudian dibagikan kepada teman-teman ngajinya.
Karena hal ini, sang kakak pernah menegur adiknya, “Mengapa kau lakukan hal ini terus menerus? Engkau selalu meminta tambahan porsi makan siang dan makan malam kepada ibu. Sedangkan engkau sendiri tahu keadaan ekonomi kita yang pas-pasan bahkan serba kekurangan?!”.
Jawaban Ibnu Baz ketika itu, “Sesungguhnya Allah itu maha pemurah. Allah pasti akan melapangkan rizkiNya untuk kita”.
Ada seorang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Syeikh Ibnu Baz bernama Saad bin Husain. Saad ini sepuluh tahun lebih tua dibandingkan Ibnu Baz. Saad berkata, “Dulu

Rabu, 01 Juni 2011

Yang Dimaksud Mempelajari Ilmu Agama


Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,
“Betapa indahnya perkataan penyair, ilmu adalah firman Allah dan sabda rasul-Nya. Demikian pula perkataan shahabat. Ini adalah suatu hal yang jelas. Bukanlah ilmu sikapmu yang dengan kebodohan mempertentangkan hadits Nabi dengan pendapat ulama. Sekali-kali tidak, bukanlah termasuk ilmu menolak dan mengingkari sifat Allah karena khawatir menyamakan dan menyerupakan Allah dengan makhluk”
(Fawaid hal 105).


Ada tiga poin penting yang

Posisi Tangan Ketika Shalat

 
Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad menyatakan bahwa saat sholat tangan diletakkan di bawah pusar. Hal ini berdasarkan perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu “Termasuk sunnah Nabi adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar.” (HR Ahmad dalam tambahan musnad dalam Fathul Baari 2/262 al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan sanadnya dhaif)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tangan saat sholat diletakkan di atas pusar dan inilah yang ditegaskan oleh Imam Ahmad. Beliau menegaskan bahwa tangan itu diletakkan di atas pusar di bawah dada. Pendapat yang ketiga menyatakan bahwa tangan diletakkan di atas dada dan pendapat ini merupakan pendapat yang paling mendekati kebenaran. Sebenarnya hadits-hadits yang mendukung pendapat ketiga ini mengandung pembicaraan. Akan tetapi hadits yang dibawakan oleh Sahal bin Sa’id di mana beliau mengatakan para shahabat diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas hasta tangan kiri di dalam sholat. (HR Bukhari no 740), makna eksplisit dari hadits ini mendukung pendapat yang menyatakan bahwa tangan diletakkan di atas dada. Meskipun hadits-hadits berkenaan dengan hal ini mengandung pembicaraan namun hadits yang paling kuat dalam hal ini adalah hadits yang disampaikan oleh Wail bin Hujr sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di atas dada. (Lihat Ahkamul Janaiz Karya al-Albani hal 118) Inilah tempat meletakkan tangan yang terbaik

Akan tetapi kita lihat sebagian orang meletakkan tangan di atas lambung kiri dan jika kita tanya alasannya mereka mengatakan ini adalah letak hati. Namun alasan ini tidak bisa diterima disebabkan:
Pertama, hal ini adalah alasan logika yang berseberangan dengan sunnah Nabi, sedangkan semua alasan logika yang berseberangan dengan sunnah Nabi harus ditolak karena sunnah Nabi-lah yang lebih berhak untuk diikuti.
Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat dalam posisi tangan diletakkan di pinggang sedangkan perbuatan di atas jika tidak sesuai dengan larangan dalam hal ini maka minimal mendekati larangan ini. Oleh karena itu jika kita melihat ada seorang yang melakukan demikian hendaklah mereka kita nasihati baik-baik.
Ketiga, posisi seperti ini adalah posisi yang tidak seimbang karena dalam hal ini sisi kiri badan lebih diutamakan daripada sisi kanan. Dan kita katakan perkara yang terbaik adalah yang pertengahan. Sedangakan posisi pertengahan antara sisi kiri dan sisi kanan adalah dengan meletakkan tangan di atas dada. (Lihat Shifat as-Sholah karya Ibn Utsaimin hal 49-50 cetakan Darul Kutub al-Ilmiah)